Tinggalkan komentar

Sehabis hujan di akhir pekan.
#pathparty – at Rempoah, Baturraden

View on Path

Tinggalkan komentar

Hati yang penuh syukur bukan saja merupakan kebajikan yang terbesar, melainkan merupakan induk dari segala kebajikan yang lain.

Cicero

Listening to Teman Baik by Nugie

Tinggalkan komentar

Teman baik ada di sekitar kita…

Listening to Teman Baik by Nugie at Credit Union Cikalmas

Preview it on Path

Cuma Sule yang Bilang Harga Rokok di Indonesia Terlalu Murah

Tinggalkan komentar

hari ini kebetulan saya mampir di sebuah situs yang “mengasyikkan”.

niatnya mau menorehkan cerita dengan sangat “sukahati” saya batalkan, demi membaca tajuk-tajuknya yang memang “mengasyikkan”. sekaligus ungkapan “syukur” atas pertemuan ini saya sampirkan saja sekilas tentangnya.

situs ini bernama — http://mojok.co/ — Sedikit Nakal Banyak Akal

“Bahwa sesungguhnya mojok adalah hak segala bangsa, baik yang sudah mandi maupun belum. Mojok disukai wanita setengah berjilbab, setengah liberal, setengah konservatif, setengah komunis hingga yang tidak setengah-setengah, dicintai pria dari kutub selatan sampai kutub utara.”

..

lantas inilah pintasan tajuk yang membuat saya sangat “sukahati” membatalkan torehan cerita di blog saya ini —

 

Cuma Sule yang Bilang Harga Rokok di Indonesia Terlalu Murah.

 

silakan mengkliknya… dijamin Anda merasakan atmosfir “mengasyikkan” yang sedang saya alami sebelumnya.

terima kasih MOJOK … kali ini saya benar-benar ter-TOHOK

Bunda Maria Sang Kendi Kencana Ketangi

3 Komentar

Kapel Ketangi Paroki Purwosari Purworejo (photo: Dhamar)

nderek Dewi Mariyah, temtu gengkang manah. mboten yen kuwatosa, Ibu njangkung tansah. Kanjeng Ratu ing swarga, Amba sumarah samya.

setiap malam jum’at pertama di sebuah kapel bercorak arsitektur Jawa, lagu ini mengalun syahdu. mengingatkan aku pada devosi yang selalu menemani budheku di purwokerto dan almarhum mbah putriku di mbarepan. devosi pada Bunda Maria yang mengajarkan aku untuk menghargai kehidupan. banyak cerita reflektif yang sering ku dapat dari pengalaman devosi dan iman mereka yang me’laku-bathin’ bersama Maria, Bunda semua orang beriman. yap, Ibu yang ku pahami sebagai sangkan paran, sumber dan mata air kehidupan. penghayatan inilah yang menggerakkan seorang sahabat, romo, sekaligus sosok yang ku kagumi pandangan hidupnya, RBS Widi Hargono MSC, menelisik laku bathin umat di sebuah paroki desa, Purwosari. sebuah kebetulan aku ditempatkan di wilayah ini dua tahun silam oleh lembaga Credit Union Cikalmas Purwokerto, tempatku berproses dan bekerja. laku bathin dan falsafah Jawa yang begitu kental ku dapati di Purwosari selama berproses bersama romo Widi, begitu panggilan singkatnya.

Rm. Widi (berjubah hitam)

Rm. Widi (berjubah hitam)

Kemarin, tepatnya hari Jum’at, 11 Juni 2010, sebuah permulaan dari perjalanan panjang yang sudah dilalui di Kapel Ketangi dimulai. acara yang cukup sederhana dihelat untuk peletakan batu pertama pembangunan Tempat Ziarah Batin Bunda Maria Sang Kendi Kencana Ketangi.

Bunda Maria Ketangi yang digelari Sang Kendi Kencana ini punya sejarah panjang, sama halnya dengan Kapel Ketangi yang memiliki sejarah iman yang kuat. sekiranya ini dituliskan, sarat dengan perjalanan panjang sejarah iman Katolik perdana di tanah Jawa. aku banyak mendengar dari penelusuran Rm. Widi pada orang-orang yang paham betul sejarah Bunda Maria yang sekarang ditempatkan di Kapel Ketangi dan beberapa literatur sejarah Yesuit dari Rm. Banar. Bunda Maria, Ibunya orang Jawa, sumber mata air panggilan, Sang Kendi Kencana, mungkin hanya satu-satunya di dunia. terbangun dari batu besar utuh dan bergaya Jawa ini menggetarkanku ketika pertama kali didatangkan dari Wonosobo. aku membayangkan bagaimana pematung yang membuatnya seperti pematung Budha pada candi Borobudur.

Bunda Maria Sang Kendi Kencana Ketangi (photo: Dhamar)

Rencananya pada bulan Oktober, pada penutupan Novena Maria Sang Kendi Kencana, Bapa Uskup Purwokerto Mgr. Y. Sunarka SJ akan meresmikan Tempat Ziarah Batin dan Panggilan Bunda Maria Sang Kendi Kencana Ketangi. aku berharap bisa hadir di Ketangi menyaksikan dibukanya tempat ziarah, lelaku bathin dan samadhi ini. desa Ketangi yang asri dan penuh nuansa keJawaan ini cukup mudah dijangkau. tak jauh dari Pendowo, begitu biasanya penikmat moda transportasi bus arah Jogja menyebutnya, perempatan bangjo (lampu merah) sebelum Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo. dari situ ke arah kiri, menyusuri jalan desa yang dihiasi hamparan sawah dan rindangnya pepohonan khas desa. sebuah tempat yang konon dulunya dikenal produk genteng tanah liatnya, genteng Ketangi dan produk padi lokalnya.

Ketangi sendiri sebuah nama yang unik bagiku, seolah sudah menjadi keniscayaan tempat ziarah batin bagi orang Jawa, tak jauh dari Makam Nyi Bagelen. semakin mengentalkan tradisi lelaku Jawa, kejawen,  yang ku pahami bukan klenik, magic dan hal-hal mistik seperti stigma orang terhadapnya. aku meyakini tradisi Jawa  sebagai lelaku dan pandangan hidup yang harmoni dengan alam dan Sang Pencipta.

semoga kehadiran Bunda Maria di Ketangi juga menjadi tanda kelahiran kembali lelaku bathin ku pada Gusti dan Ibu. seperti juga harapan besar panggilan dan ziarah batin yang hadir pada umat Purwosari, khususnya Ketangi.

selametan dan doa bersama peletakan batu pertama (photo: Dhamar)

Sang Dewi, Sang Dewi mangestonana.  Sang Dewi, Sang Dewi mangestonana

Berkah Dalem.


[catatan lama] Senin, 30 Oktober 2006

Tinggalkan komentar

12:41:18

panas terik. microphone anthem dari saint loco menghentak. oktober tinggal sehari.
—dha 🙂

(sumber: KORAN FESBUK)

17:20:49

haiya, seharian ga beranjak dari kotak pandora. ga tau jalan keluar atau emang betah jadi katak dalam tempurung? entahlah. sore ini masih juga kering berdebu.

beruntung angin sedikit basah agak mengurangi panasnya hari. minum kopi dingin plus rokok sebatang lumayan buat teman ngobrol sambil dengerin naif. aku tertarik dengan pertanyaan Bongki (sang pengelana) barusan. kebingungan tentang hari esok. kebingungan soal apa yang akan terjadi kemudian dengan Indonesia. adakah harapan? benarkah ada keterbukaan? rasa2nya semakin kabur, semakin tidak jelas. bermimpi satu-satunya kemerdekaan yang tersisa. btw, mikirin hal gitu mah ga ada habis2nya.. dari dulu kata O’harra nothing new under the sun… so daripada capek mikir yang entah kemana juntrungannya, let them free aja deh… sekali2 bolehlah. buat sekarang bagiku yang lebih penting hadapi hidup dengan jujur. jujur pada diri sendiri. kata orang itu yang paling sulit. yap, karena jujur cuma ada dalam mimpi. tapi tidak, bagi orang yang punya mimpi. aku masih yakin, jujur itu enak.

bisa ngetawain diri sendiri, bisa nyalahain diri sendiri, bisa punya rahasia… haha….
—dha 🙂

[catatan lama] Minggu, 29 Oktober 2006

4 Komentar

pusing neh.. ga punya duit. kayaknya seh masalah yang satu ini udah jadi masalah bawaan manusia modern. konon katanya, dulu ngga pernah orang menyoal masalah duit segini rumit kayak sekarang. entah sejak kapan duit jadi ukuran, yang pasti keberadaannya seakan sudah melekat pada entitas manusia. bedain deh ama mahluk ciptaan Tuhan yang lain plus alien-alien (kalo bener2 ada). ciri utamanya sekarang bukan lagi soal logika-otak-pikiran… yang jelas “duit”.

bisa jadi ini cuma sampah pikiran usang… so what? boleh bertaruh deh.. lo mesti ngga jujur kalo ditanya soal duit. privasi katanya. orang baru jujur perkara duit kalo lagi ada maunya. contohnya, pas mo ngutang atau kepentok tagihan. nah lho, bener ga tuh?

anehnya bahkan duit yang ga seberapa bisa jadi perkara “bunuh-bunuhan” segala. contohnya, pas ditarik tagihan parkir. jujur aja deh.. kenapa kalo parkir di mall ga pernah protes ditarik rada mahal dikit ketimbang parkir di depan warteg. konon orang modern suka mbayar lebih di tempat yang dirasa punya nilai prestise tinggi ketimbang tempat yang “slump”. seringkali gerundelan nongol gara2 harga rames yang naek di warung pinggir jalan. padahal dihitung2 ga masuk akal juga kalo warung super sederhana dengan harga jual di bawah rata2 masih harus nanggung subsidi buat pelanggan bon setia. naek dikit diprotes. giliran pada kongkow di mall super dupper yummy, ga pernah ada yang protes tuh kalo ada “penyesuaian” harga. kembalian dikasih permen juga ga protes tuh…

tapi sekarang ga orang primitif ga orang modern sama aja.. kalo bisa yang murah kenapa cari yang mahal. all about money..lagunya meja. yap, kadang pengen tau apa sebenarnya pikiran orang yang pertama kali nemu duit. maksudnya yang pertama punya ide duit jadi alat ukuran hidup. bisa jadi dulunya ga sekacau sekarang kali ya… bahkan apapun bisa djadiin duit. yang pasti dijual lantas duitnya buat beli. entah kapan dijual lagi buat beli apa lagi. dst-nya dst-nya… walah…
—dha 🙂

Older Entries